Belajar Membangun Startup dari Perspektif Perempuan

17Jun2019

Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam membangun startup

Senin (17/06), SYNRGY Innovation Hub kembali mengadakan talkshow bagi para startup enthusiasts dengan tema bagaimana perempuan membangun startup dan cara mereka meniti karir di dunia startup. Ketiga pembicara cantik yaitu Retno Dewati, Venture Capitalist, Program Director - Blue Chilli Group (Investment Capital), Julian Tanoto, CEO Cloth Inc, dan Patricia Rose, Business Development & Strategy Senior Manager - Bizzy Indonesia berkesempatan untuk berbagi pengalaman mereka dan memberikan wawasan mengenai dunia startup.


Dimoderatori oleh Jodhita Winata Jaya, Project Lead Kreavi, talkshow "How to Run & Scale Startup through Women Perspective" dibuka dengan cerita singkat dari ketiga pembicara bagaimana mereka meniti karir. Menurut ketiganya, dua hal penting bagi perempuan dalam meniti karir atau membangun sebuah bisnis, yaitu pengalaman dan kesempatan. Patricia, menjelaskan bahwa dia bekerja di Bizzy Indonesia adalah kesempatan yang diberikan di saat ia ingin membangun startup sendiri. Sedangkan Retno bahwa pengalaman kerja ia sebelumnya yang meyakinkan dia untuk berani mengambil keputusan dan berhasil berkarir dalam dunia investasi ini.


Saat ditanya bagaimana lingkungan kerja dan cara mereka memimpin, Julian Tanoto mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara dengan kepemimpinan laki-laki. “Walau biasa perempuan itu feeling banget tapi saat bekerja jatuhnya kita jadi lebih ideal dan detail.” jelas Julian. Patrice pun menambahkan bahwa saat perempuan memimpin akan lebih banyak orang yang bertanya dan meminta bantuan menyelesaikan masalah.


Dunia startup yang semakin dikenal di Indonesia kini menjadi inspirasi masyarakat untuk memulai sebuah usaha dan menjadi lapangan kerja baru. Tidak hanya digeluti oleh laki-laki, perempuan juga turut membangun dan mengembangkan sebuah startup. Salah satu hal yang tidak mudah dilakukan dalam membangun startup adalah mendapatkan investor, baik itu untuk founder laki-laki ataupun perempuan.


Adanya investor-investor yang fokus pada founder perempuan menjadi jalan baru bagi perempuan Indonesia untuk tidak takut memulai usaha. “Indonesia itu negara berkembang yang peluangnya besar banget dalam membangun startup. Beda dengan Australia contohnya, karena pasti saat membuat startup akan terbentuk dengan regulasi-regulasi mereka yang ada. Sedangkan kita negara berkembang belum ada regulasi-regulasi yang ketat.” jelas Patricia. Maka dari itu tidak perlu takut untuk membangun startup di Indonesia dan tidak perlu takut tidak mendapatkan investor, karena Indonesia saat ini merupakan target pasar yang besar bagi investor-investor baik dari dalam maupun luar negeri.


Jika ingin mulai membangun startup, Retno memberikan tips bidang startup apa yang sedang berkembang. Menurutnya fintech merupakan bidang startup yang masih dan akan tetap memiliki peluang yang besar untuk digeluti. Berbeda dengan e-commerce yang dianggap akan lebih susah untuk bersaing dengan Tokopedia dan Bukalapak, tanpa memiliki keunikan tersendiri. Bidang lainnya yang berkembang adalah logistics.


Di akhir, Patricia, Retno dan Julian menjelaskan bahwa dasar membangun startup adalah sebuah masalah. “Indonesia sebagai negara berkembang itu punya banyak banget masalah yang perlu diselesaikan. Startup harus dibangun dengan tujuan menyelesaikan masalah tersebut” jelas Julian. Bangunlah startup untuk kemajuan ekonomi Indonesia.