Pentingnya Menyeimbangkan Tujuan Sosial dalam Sebuah Bisnis

21Mei2019

Menyelaraskan tujuan sosial dengan keuntungan sebuah bisnis sosial

Selasa (21/05/2019) - Tanijoy dan SYNRGY Innovation Hub mengadakan mini talkshow bertajuk "How to Balance Social Purposes and Businesses". Dewasa ini, para social entrepreneurs masih kewalahan dalam menyelaraskan tujuan sosialnya dengan keuntungan (profit) yang dihasilkan. Padahal sejatinya dalam bisnis sosial, profit dan purpose harus seimbang.


Talkshow yang dimoderatori oleh VP marketing Tanijoy, Mulyani, ini menghadirkan tiga pembicara yang berkecimpung lama dalam usaha sosial. Mereka adalah Nanda Putra (CEO Tanijoy), Ika Yanti Yuli (Junior Operations Manager Du'Anyam), dan Dian Wulandari (Co-Founder Instellar).


Acara dibuka oleh Nanda Putra yang menjelaskan bahwa dalam menjalankan bisnis sosial, para pendiri harus berpegang pada 4P. Maksud dari 4P tersebut adalah purpose (tujuan), passion (gairah), profit (keuntungan), dan persistence (kegigihan). Ia mencontohkan bagaimana Petani Mitra Tani Tanijoy di Bogor dapat meningkat kesejahteraannya. "Yang mereka butuhkan tidak hanya santunan, namun juga harapan dalam hal permodalan. Selain itu kita juga melakukan pendampingan hingga pasca panen", pungkasnya.


Lain dengan Tanijoy yang bergerak di sektor pertanian, Du'Anyam memproduksi anyaman dengan tujuan memberdayakan perempuan dan mensejahterakan ibu dan anak. Ika Yanti Yuli menjelaskan bahwa kini ada 50 desa yang mendapatkan manfaat dengan bergabungnya para Ibu dengan Du'Anyam. Sekitar 40% pendapatan perempuan meningkat berkat program yang dijalankan. Ia pun menambahkan bahwa kunci dalam bisnis sosial agar berkelanjutan adalah dengan berkolaborasi dengan banyak pihak.


Di bagian akhir Dian Wulandari menjelaskan pendapatnya akan bisnis sosial. Menurutnya bisnis sosial haruslah memiliki karakteristik yang impactful (berdampak), for profit (untuk keuntungan), dan value (memegang nilai-nilai). Co-founder Instellar ini mengatakan bahwa dalam menyelesaikan masalah sosial, ada lima cara berpikir untuk menjalankan bisnis yaitu challenges tradition (menantang tradisi), mengkombinasikan kreativitas dengan pasar, mau terus belajar, berani ambil risiko kegagalan, dan selalu berpikir apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain.