Perkembangan Electric Vehicle di Indonesia

Teknologi yang dapat membantu masyarakat Indonesia

Kamis (25/04), ICare Indonesia dan Beehive Drones menyelenggarakan Kopi Sore dengan tema Electric Vehicle (EV) Basics And Development In Indonesia di SYNRGY Innovation Hub. Membahas mengenai dasar dan perkembangan mesin listrik di tanah air, acara ini menghadiri tiga pembicara. Mereka adalah Ganesha Tri Chandrasa, Senior Researcher Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Sukamdani, Manajer Operasional MIGO, dan Albertus Gian,CEO & Founder Beehive Drones.


Dipimpin oleh Diwangkoro Muhammad Dola Putra dari ICare sebagai moderator, masing-masing panelis memberikan presentasi mengenai Electric Vehicle yang digunakan startup mereka.


Dibuka oleh Ganesha Tri Chandrasa yang membahas jenis-jenis EV menurut Department of Energy, Amerika Serikat yang diklasifikasikan kedalam 3 bagian, yaitu Hybrid Electric Vehicles (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicles (PHEV), dan Battery Electric Vehicles (BEV). Beliau juga menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan Electric Vehicles sebagai penggerak kendaraan, maka akan menghemat biaya operasional karena tidak menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi. Selain itu, Electric Vehicles juga tidak menghasilkan emisi gas serta polusi udara.


Selanjutnya, Sukamdani sebagai Manajer Operasional MIGO di Jakarta memberikan presentasi seputar layanan penyewaan sepeda listrik (Ebike). MIGO hadir sebagai solusi bagi masyarakat untuk menghadapi padatnya lalu lintas, tapi juga tetap menjaga lingkungan. MIGO menggunakan Electric Vehicle dalam pembuatan Ebike-nya, sehingga setiap ebike tidak menggunakan bensin sebagai sumber daya, tetapi menggunakan listrik. MIGO bisa digunakan selama 8 jam dan bisa menempuh jarak 40-60 km dalam 30 menit. Memulai sejak tahun lalu di Surabaya, kini MIGO ekspansi ke Jakarta dan sudah memiliki 500 stasiun penyewaan Ebike.


Jika Ganesha dan Sukamdani menjelaskan penggunaan Electric Vehicles di transportasi darat, Albertus Gian menjelaskan mengenai penggunaan EV di udara. Sebagai CEO dari startup IOT dan menggunakan drones, Gian menjelaskan mengenai jenis Electric Vehicles yaitu UAV, Unmanned Aerial Vehicle. UAV pertama kali diciptakan sebagai pesawat listrik nirawak yang bertujuan untuk memberikan serangan udara pada kancah peperangan. Namun seiring perkembangan jaman dan teknologi kini UAV lumrah dikembangkan untuk tujuan lainnya seperti remote sensing, perekaman film komersial, eksplorasi minyak bumi, bantuan bencana, hingga penggunaan rekreasi. Sudah banyak perusahaan aviasi ternama seperti Boeing dan Airbus yang turut serta mengembangkan UAV.

Teknologi berkembang, regulasipun harus ikut berkembang

Penggunaan Electric Vehicles memang sudah mulai berkembang baik di internasional maupun di Indonesia sendiri. Tidak hanya menghemat pembiayaan, tapi penggunaan EV juga bisa menjaga dan melestarikan lingkungan. Hal ini yang membuat EV akan terus dikembangkan dan digunakan lebih ke depannya. Sayangnya , di Indonesia masih belum ada regulasi yang tepat bagi pengguna EV. Regulasi-regulasi yang ada merupakan hasil adaptasi dari regulasi internasional. Isu besar ini menjadi salah satu tantangan bagi startup IOT seperti MIGO dan Beehive Drones untuk lebih mengembangkan startup-nya, karena masih belum mendapatkan dukungan yang kuat dari Pemerintah.


“Regulasi UAV internasional mungkin lebih maju namun belum tentu cocok untuk diterapkan di Indonesia dengan norma dan kebiasaan masyarakat yang jauh berbeda.” jelas Gian.


Ganesha Tri Chandrasa sebagai bagian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjelaskan bahwa Pemerintah memang masih perlu untuk merampungkan regulasi-regulasi terkait Electric Vehicles, baik yang mengatur industri EV, mulai dari perpajakan EV, hingga insentif fiskal bagi pengguna EV.